Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2009

Modem CDMA Venus VT 21 at Ubuntu Desktop : Its very easy to use!

Kemarin ada rekan yang bertanya tentang menggunakan modem dial-up CDMA dengan merek Venus VT 21 pada desktop Ubuntu Jaunty. Setelah googling, ternyata Modem dial-up CDMA Venus VT 21 sudah terdeteksi secara native pada desktop Ubuntu. Kita hanya perlu menginstalasi aplikasi wvdialconf atau Gnome PPP. Karena saya lebih nyaman bekerja pada desktop, maka saya gunakan Gnome PPP. Pertama, tentu kita harus menginstalasi Gnome PPP. Paling praktis menggunakan apt. Andai kita menggunakan notebook, kita bisa mengakses repositori online dengan fasilitas hotspot yang banyak tersebar di pusat perbelanjaan atau tempat hiburan lain. Cara kedua adalah kita bisa nebeng ke jaringan internet wired milik rekan, dan mencolok sebenar CPU kita untuk mengakses repo online Ubuntu. Bagaimana kalau kita tidak punya akses internet sama sekali? Jalan lain yang paling praktis adalah membeli DVD repositori ubuntu, yang banyak di tawarkan oleh distributor produk CD/DVD Linux yang ban

Belajar Alur Pemaketan Software di Linux, Berharap Bisa Konsen dan Lebih Expert di Bidang Linux-Packaging !

Satu dimensi dalam sistem operasi yang wajib ada bagi saya adalah Multimedia Center. Saya menginstalasi Mplayer GUI di Kate OS, beserta dengan Amarok dab k3b. Sayang sekali Mplayer GUI tidak juga berjalan lancar di Kate OS. Memang bisa menjalankan DVD dan semua file video lain, tetapi tidak bisa di maximize dan fullscreen. Setelah coba dan coba, terakhir saya mendapati satu front-end Mplayer yang sangat bagus yaitu Smplayer. Sangat ringan, dan memiliki fungsionalitas banyak sekali. Persoalannya adalah, dimana saya bisa mendapatkan paket installer Smplayer untuk distribusi Slackware? Saya coba kunjungi http://www.packages.slackware.it dan saya susah mendapatkan paket Smplayer. Karena bingung saya terpikir cara praktis. Saya gunakan saja binari Smplayer milik Ubuntu. Tanpa banyak pertimbangan, saya pun langsung mengeksekusi Smplayer yang ada di /root Ubuntu, dan muncul banyak dependensi yang kurang ( ya iyalah! ). Tanpa bingung juga saya susun sendiri daftar dependensi ya

Back to the /root, tryin Slackware !

Setelah puas berkutat dengan Ubuntu, Mandriva, openSUSE dan Fedora, satu distribusi yang belum saya 'pergauli' adalah Slackware. Karena tuntutan diri sendiri, akhirnya saya tak tahan lagi untuk mencoba Slackware, dan memutuskan menginstalasi satu distribusi turunan Slackware yaitu Kate OS . Sebagai distribusi 'anak' Slackware, tentu saja Kate OS memiliki pengaturan yang sama. Proses instalasi dengan ncurses. Beberapa perhatian yang mungkin di perhatikan bagi kita yang baru pertama mencoba menginstalasi Slackare (mungkin) adalah : >> Partisi / Swap << Pada setup pertama instalasi, kita jangan langsung menuju pengaturan TARGET pemartisian /root, tetapi harus menseting partisi untuk swap terlebih dahulu. Karena ke-belum-tahuan saya, saya tidak menseting swap (karena saya anggap sudah di seting otomatis), adalah setelah proses instalasi selesai dan masuk sistem, tidak ada swap sama sekali (swap tidak terdeteksi). Karena hal itu, saya ulangi lagi inst

Are You Ready to Amarok ?

Saya sering merasa aneh sendiri. Dalam keseharian, saya adalah pengguna GNOME dan XFCE, tetapi saya sangat menyukai aplikasi-aplikasi KDE. Amarok, K3B, Kid3, Krita, Kchmviewer, SMPlayer. Entah mengapa bagi saya aplikasi KDE (dan desktop KDE sendiri) terlihat sangat elegan, profesional dan taste 'Linux' sekali. Sayang sekali konsumsi memory yang lumayan boros membuat saya jarang menggunakan desktop KDE untuk 'everyday using'. Walaupun begitu, saya tetap dan hampir selalu menggunakan aplikasi-aplikasi KDE untuk menyelsaikan pekerjaan sehari-hari. Dan yang membuat saya gembira adalah, standar desktop KDE terbaru yang ditulis dengan Qt4 yaitu KDE 4, membawa versi terbaru dari aplikasi-aplikasinya. Sorotan saya yang paling utama tentu pada Amarok. Aplikasi Music Organizer paling powerful di desktop Linux. Jika di Amarok 1.4 (versi stabil terakhir untuk standar desktop KDE 3.5) ada banyak fitur mumpuni, bagaimana dengan Amarok 2 ? Dari splash screen Amarok 2, ada satu kalima

Yang Serba 'Mudah' di Desktop Linux : Konfigurasi Repositori Lokal di Mandriva Linux

Mandriva Linux adalah salah satu pemain senior dalam hal desktop Linux. Keindahan desktop dan kemudahan penggunaan adalah nilai jual utama Mandriva Linux. Selain itu distribusi ini juga menyertakan kumpulan driver hardware yang lengkap dalam bundel distribusinya. Tidak heran jika ada beberapa distribusi yang di turunkan dari Mandriva Linux, yang pada akhirnya juga menjadi distribusi yang populer, sebagai contoh adalah PCLinuxOS. Walaupun secara keseluruhan manajemen sistem desktop Mandriva cukup mudah, ada satu pertanyaan simpel yang perlu dibahas, yaitu bagaimana cara menambahkan repositori lokal di Mandriva untuk dipakai dalam hal manajemen software? Manajemen software Mandriva sama sekali tidak sulit. Sama seperti distribusi besar lain, cara kerja manajemen repositori paket Mandriva memiliki alur kerja sebagai berikut : media_info > metadata / database paket RPM yang ada dalam repositori. Letaknya satu folder dengan kumpulan paket RPM yang ada dalam sebuah

Melepas Lelah dengan Penguin !

Seringkali kita mendapai kesuntukan dalam bekerja di depan komputer. Ada banyak pilihan untuk sedikit menghibur diri dengan desktop Linux kita. Kalau kita ada koneksi internet, tentu kita bisa ber-facebook atau googling mencari bacaan-bacaan ringan. Alternatif lain (dan kalau kita tak ada koneksi internet) adalah bermain game. Di lingkungan desktop Linux, ada banyak sekali pilihan game, baik yang ringan maupun yang agak berat. Salah satu game yang cukup saya sukai karena keringanannya dan ke-lucu-annya adalah Frozen Bubble! Game ini hampir mirip dengan jenis-jenis game Zuma Deluxe, cuma tokoh yang ada adalah si maskot Linux Tux Penguin dengan versi wajah yang lebih imut. Permainan Frozen Bubble sangat sederhana. Kita hanya perlu menembakan bola dengan warna yang sesuai dengan deretan bola yang keluar dari atas. Mirip dengan Zuma. Letak kesegaraanya tentu pada tokoh Tux yang menembakan bola dengan tuas. Ekspresi khas kartun Tux yang memang menjadi daya tarik tersendiri ba

Lagi : Tentang Pilihan dan Konsep Distro

Lagi! Setelah saya berhasil menginstalasi OpenOffice.org 3.0 di Mandriva 2008, saya berhasil juga melakukan hal yang sama di Mandriva Spring 2007.1. Prosesnya pun sama, kita hanya perlu meng-uninstalasi terlebih dahulu paket OpenOffice.org yang ada di sistem, kemudian kita menginstalasi yang baru, yang kita dapat dari situs OpenOffice.org . Bukan sesuatu yang besar, tetapi ada satu pesan kecil yang ingin saya selipkan di sini. Kalau kita tidak memiliki koneksi internet di rumah, hemat saya adalah, kita tidak perlu terlalu sering melakukan upgrade atau copot-pasang instalasi desktop Linux. Selain melelahkan, resiko kehilangan data, dan juga ada kemungkinan memperpendek masa ekonomis hardisk. Alasan yang sebenarnya sangat sederhana, aplikasi-aplikasi opsional yang kita butuhkan (katakanlah OpenOffice.org), sekarang sudah dapat kita upgrade dengan cara yang mudah, tanpa harus melakukan upgrade keseluruhan sistem. Selama tidak ada masalah dengan hardware, tidak ada alasan bag

Berbagi Binari Executable Dalam Satu Komputer

Alkisah baru-baru ini saya menginstalasi Mandriva Linux 2008 untuk 'menemani' Ubuntu 8.04 yang 'kesepian' karena sendiri di komputer saya. Seperti yang sudah-sudah, Mandriva memang distro yang sangat 'desktop oriented'. Tampilan boot splash dan desktop yang serba biru laut dan kelihatan sangat elegan. Permasalahan utamanya adalah, saya tidak mempunyai kumpulan paket repositori yang lengkap. Padahal, saya sangat menyukai aplikasi-aplikasi tertentu yang ternyata tidak saya temukan dalam DVD instalasi standar Mandriva Linux 2008. Di tengah kebingungan itu saya iseng me-mount partisi Ubuntu dan membuka direktori binari. Saya iseng juga mengeksekusi kumpulan binari milik ubuntu tersebut dan ternyata bisa di eksekusi! Wah! Tanpa pikir panjang, saya langsung memasukan partisi ubuntu ke fstab, kemudian saya membuat symbolic link binari aplikasi yang ada di ubuntu ke direktori binari Mandriva Linux saya. Saya memakai sampel sebuah aplikasi g

Tidak Serumit Yang Dikira, Walau Belum Sesimpel Windows! Upgrade OpenOffice.org 3 di Linux Lama

OpenOffice.org adalah salah satu aplikasi office suite open source paling terkenal saat ini, terutama di lingkungan desktop Linux dan Free-Unix. Bahkan, di sebagian besar distribusi Linux dan free-unix, OpenOffice.org dijadikan software office suite default yang dibundel dengan paket distribusi. Namun, ada satu kondisi dalam sistem pendistribusian software di lingkungan desktop Linux yang mungkin terasa janggal bagi pengguna baru desktop Linux. Karena banyaknya variabilitas software dan sangat cepatnya siklus development software di Linux, dalam dunia Linux, alur dan motode pendistribusian software jadi terasa agak ribet. Karena variabilitas software yang begitu banyak, dan banyak software dalam Linux yang dikembangkan dari software yang lain dan seterusnya. Pada akhirnya, pengembangan sotfware di Linux menjadi rantai yang berurutan dan menciptakan banyak ketergantungan-ketergantungan antar paket software. Dan yang paling repot adalah, developer paket

Sebuah Harapan Akan Kemajuan Bangsa

Enaknya online! Hanya itu yang bisa saya katakan! Internet (cepat) yang masih mahal dan belum stabil adalah kendala paling fundamental dalam perkembangan IT di negeri kita tercinta ini. Karena masih mahalnya internet, banyak bermunculan penyedia dan distributor DVD repositori beberapa distribusi Linux besar, katakanlah seperti Ubuntu, Fedora, Mandriva dan Zenwalk. Di luar negeri, bisnis sejenis mungkin kurang laku. Di sana internet cepat sudah bisa di dapat dengan mudah dan cukup murah. Memang luar biasa enak kalau kita sudah online. Kemarin saya coba update repositori di KambingUI, hanya dengan modal hotspot pun, semua terasa sangat mudah sekali. Instalasi codec restricted , instalasi aplikasi dari server ini-itu, semua sangat enak sekali, walau dengan koneksi hotspot yang njrat-njrut tidak stabil. Pokoknya enak sekali kalau sistem sudah online! Kapan ya internet cepat murah tersedia di negeri tanah kelahiranku tercinta ini? PR untuk pemerintah! ^_^

Lebih Cepat, Lebih Baik

Ini sama sekali bukan iklan, atau latah. Isu antara performance dan appearance dalam komputasi selalu hangat dan selalu ada dua tipe user yang secara ekstrem memilih pendekatan keduanya, kecepatan atau responsivitas sistem dan keindahan interface grafis (desktop) sistem. Saya sendiri, sebenarnya perfeksionis. Andai bisa, saya sangat mengingikan sebuah sistem dengan interface grafis seindah mungkin dengan kinerja sistem yang cepat dan responsif. Sebenarnya keduanya dapat dicapai, cuma tentu saja dengan upgrade hardware yang lumayan. Berhubung hardware yang saya punya pas-pasan, saya mencoba menyeimbangkan keduanya. Tema-tema tambahan dari GNOME-LOOK atau UBUNTU-ART sudah sangat mencukupi untuk 'memoles' interface desktop Gnome saya menjadi indah. Sekarang saya tinggal membuat desktop Gnome lebih responsif. Caranya sederhana sekali. Bagian yang membuat desktop Gnome terasa lambat adalah efek minimize yang menurut ungkapan banyak user 'ugly',