Selasa, 10 November 2009

Selamat Datang, Foxit Reader Linux !




Alkisah, dulu sekali (sekitar 2006), yaitu ketika saya masih menggunakan 'OS Jendela', saya sangat menyukai sebuah aplikasi PDF Viewer bernama Foxit Reader. Keunggulan aplikasi tersebut tentu saja adalah karena sangat ringan sekali, bahkan ketika saat itu dijalankan dikomputer Pentium 500 MHz saya. Dan juga, walaupun ringan, fitur daripada aplikasi Foxit Reader adalah sangat lengkap, sama sekali tidak kalah bila dibandingkan dengan aplikasi sejenis yang sudah sangat melegenda, Adobe Reader. Oleh karena hal tersebut, pada zaman-zaman OS Jendela masih menguasai komputer saya, Foxit Reader menjadi aplikasi andalan dan kebanggan saya. Saya sering mempromosikan aplikasi tersebut kepada rekan-rekan saya yang lain.


Nah, karena suatu kebetulan, ternyata saya menemukan juga bahwa Foxit Reader telah ada versi Linux-nya! Horeeeeeey!! Sungguh, saya sangat bergembira sekali. Saya seperti bernostalgia dengan aplikasi kebanggaan saya dulu, dan kini bisa dijalankan di desktop kebanggaan saya juga, Ubuntu Linux. Langsung saja saya download versi tarbal (*.tar.bz2), dan sungguh amat sangat ajaib, ternyata Foxit Reader Linux adalah sebuah aplikasi portabel, dan masih tetap sangat ringan!!


Sungguh ajaib, aplikasi ini sangat ringan, kalau boleh saya bandingkan, tingkat ke-ringan-annya sama dengan XPDF, dengan membawa segudang fitur yang menarik dan hebat. Wow wow wow! Karena aplikasi portabel, setelah paket tarbal di extract, kita bisa menjalankan aplikasi ini dengan meng-klik sebuah binari executable static linked bernama FoxitReader. Agar paten, maka kita masukan saja paket Foxit tersebut ke sistem Linux kita. Kita bisa memasukannya ke /opt, atau kemanapun kita suka, /usr/share mungkin.



$ sudo mv 1.1-release /opt -v
$ sudo mv 1.1-release /usr/share -v*
*) saya suka memakai opsi 'verbose' dalam operasi di Terminal, termasuk copy-move.


Setalah itu, kita buat symbolic link untuk binari FoxitReader kita ke direktori /usr/bin.

$ sudo ln -s /opt/1.1-release/FoxitReader /usr/bin/foxit


Agar muncul di menu, kita buat launcher-nya. Agar mudah, buat saja dari desktop Ubuntu. Klik kanan>Create Launcher, beri nama Foxit Reader, pada bagian command, ketik 'foxit' (tanpa petik). Sekarang kita sudah punya launcher Foxit Reader.desktop. Agar lebih pas, edit terlebih dahulu launcher yang baru saja kita buat, dengan gedit.


$ cd Desktop
$ gedit Foxit\ Reader.desktop

Tambahkan satu baris berikut :
Categories=Applications;Office;

Simpan, dan copy-lah launcher tersebut ke sistem :

$ sudo cp Foxit\ Reader.desktop /usr/share/applications -v (posisi masih di Desktop)


Terakhir, agar tiap file pdf kita terafiliasi ke aplikasi Foxit Reader, pada salah satu file pdf, klik kanan>Open With, tambah daftar list aplikasi pembuka (add), pilih use a custom command, dan ketik foxit.


Sekarang, kita sudah mempunyai Foxit Reader di desktop Linux kita. Aplikasi ringan-melayang, dengan segudang fitur. Selamat mencoba !


Catatan :
Sebenarnya ada versi DEB dan RPM di situs Foxit Reader, tetapi kemarin, ketika saya coba mengaksesnya, server download-nya terasa sangat lambat, mungkin waktu itu ada masalah, jadi saya download versi tarbal. Kalau mau yang lebih praktis, download saja installer untuk sistem kita (DEB atau RPM).

Sabtu, 07 November 2009

Memunculkan OpenOffice.org Math / Formula pada Ubuntu




Ubuntu adalah desktop Linux ter-populer. Sebabnya bisa bermacam-macam, yang paling populer adalah adanya pemesanan gratis shipit Ubuntu, dan dukungan paket software yang lengkap.


Daripada itu semua, default desktop Ubuntu sudah menyertakan beberapa paket mendasar yang sangat bagus, yaitu GIMP, Firefox, dan OpenOffice.org. Hanya saja, dalam hal paket OpenOffice.org, jika kita bandingkan dengan bundel paket OpenOffice.org di distribusi lain, bundel OpenOffice.ord di Ubuntu hanya menyertakan 4 paket dari keseluruhan paket OpenOffice.org, yaitu : Draw, Calc, Impress, dan Writer.


Sementara itu, untuk berbagai kebutuhan, paket lain dalam OpenOffice.org juga kita butuhkan, dalam hal ini paket OpenOffice.org Math dan Base. Dan untuk itu, kita bisa menginstalnya dengan sangat mudah melalui repositori online Ubuntu, atau DVD repositori Ubuntu :


$ sudo apt-get install openoffice.org-math openoffice.org-base


Namun ternyata, entah karena pertimbangan apa, paket OpenOffice.org Math di Ubuntu tidak akan muncul di menu. Hah? Ya! Dan setelah saya selidiki, memang demikian. Walaupun kita sudah menginstalasi paket OpenOffice.org Math ( OpenOffice.org Formula ) di Ubuntu, shortcut untuk mengakses OpenOffice.org Math tidak akan muncul di menu GNOME. Untuk mengaktifkannya, sangat mudah dan sederhana. Edit saja konfigurasi shortcut aplikasi yang ada, yang letaknya ada di /usr/share/applications.


Buka terminal,

dan lakukan pengeditan :


$ sudo gedit /usr/share/applications/openoffice.org-math.desktop


Pada file konfigurasi shortcut OpenOffice.org Math, carilah baris yang bertuliskan nilai berikut :


NoDisplay=true


Gantilah nilai true menjadi false, sehingga menjadi

NoDisplay=false


Atau yang lebih praktis, hapus saja baris tersebut, dan kemudian save.


Setelah itu, akses-lah menu GNOME. Sekarang shortcut OpenOffice.org Math (OpenOffice.org Formula) sudah muncul!


Selamat ber-Linux !

Selasa, 27 Oktober 2009

Kembali Pada amaroK : Karena error pada gMusicbrowser


gMusicBrowser bawaan Zenwalk 5.2 yang buggy

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba menginstalasi Zenwalk 5.2 GNOME. Secara keseluruhan, desktop linux berbasis Slackware ini sangat oke. Di usung dengan GNOME 2.22, dekstop ini terasa sangat cepat di komputer saya.


Aplikasi-aplikasi yang disertakan pun lumayan, walau saya harus menambah sendiri OpenOffice.org 3.0. Dari beberapa aplikasi yang by default disertakan ada satu yang cukup menarik perhatian saya, yaitu gMusicbrowser. Sekilas mirip sekali dengan aplikasi music manager amaroK, namun setelah saya coba beberapa kali, ternyata aplikasi tersebut (yang disertakan dalam Zenwalk 5.2), masih cukup buggy. Selalu saja ada error yang sama setiap kali saya menjalankan musik dengan gMusicbrowser yaitu setelah menjalankan lagu beberapa track, aplikasi ini akan berhenti memutar lagu selanjutnya. Saya coba klik-klik lagu-lagu yang ada, namun tetap saja hasilnya sama. What`s happened? Itulah, karena saya belum menjadi seorang programmer atau software analyzer, maka saya hanya bisa ber-bingung-ria. Hyuff!!


Karena bingung dan tidak tahu masalahnya, akhirnya saya lebih memilih menggunakan (kembali) pemutar musik kebanggaan KDE : amaroK. Setelah menimbang dan membandingkan, dari berbagai macam aplikasi music-organizer, memang amaroK masih menjadi yang terbaik, mengalahkan aplikasi sejenis yang ditulis dengan berbasis GTK : Evince, Banshee, Rhythmbox, gMusicbrowser, BMPx.


Dalam hal ini, semakin menguatkan keyakinan saya, bahwa software yang memang didesain untuk desktop linux yang ultimate memang KDE, terbukti dengan banyaknya aplikasi KDE yang memang terasa berfungsi secara ultimate, alias “hampir-tanpa-cela”. Tengoklah semisal amaroK, K3B, Kchmviewer, Kdeedu, SMPlayer dan lain sebagainya. Semua berfungsi dengan hampir-sempurna, dan dengan interface yang cantik.


Selamat ber-Linux !

Sabtu, 24 Oktober 2009

Enam Langkah Mudah Membuat Linux LiveUSB





Dewasa ini, ada tren baru untuk teknologi komputer, yaitu Netbook. Sebuah perangkat komputer esktra mini yang biasanya di persenjatai dengan Intel Atom, HDD 160/250, 1 GB RAM dan layar 10 Inchi. Fitur-fitur mendasar masa kini tentu ada : wifi (WLAN) dan webcam.


Satu keunggulan dari produk netbook adalah mobility. Ukurannya yang extra-mini membuatnya bersifat sangat portabel. Ringan dan mudah dibawa kemana-mana. Bisa diselipkan ditas kuliah / sekolah dengan leluasa. Selain itu, dengan adanya WLAN, kita sudah bisa dengan asyik menikmati hotspot menggunakan netbook. Kapasitas RAM yang lumayan juga membuat produk ini, walau berukuran kecil, mempunyai kinerja yang cukup cepat, untuk penggunaan sehari-hari (Internet, Office, Audio-Video).


Dan satu kekurangan utama dari produk ini adalah : Tidak adanya optical drive (DVD). Tentu saja ini cukup merepotkan bilamana kita ingin menginstal sistem operasi. Lalu bagaimana? Buat saja LiveUSB Linux. Caranya amat sangat mudah. Mari kita simak.


Pertama, download iso Linux yang kita inginkan (Ubuntu, MandrivaOne). Bisa juga installer besar Linux seperti Fedora, OpenSUSE, Mandriva atau Slackware, dengan kompensasi kita harus menyediakan USB dengan kapasitas besar (8 GB/di atas 5 GB).

Kedua, download sebuah aplikasi pembuat LiveUSB yang sifatnya sangat praktis dan luar biasa hebat, namanya adalah unetbootin. Ada versi Linux dan Windows dari aplikasi ini. Untuk versi linux sendiri, bentuknya adalah sebuah static linked binari, alias satu file yang bisa di eksekusi langsung dengan di double-click. Luar biasa praktis bukan?

Ketiga, colokkan USB Flashdisk kita ke desktop Linux kita yang sudah ada.

Keempat, hapus/kosongkan USB Flashdisk. Tetaplah mount USB Flashdisk.

Kelima, double-click binari unetbootin-linux-xxx dan akan diminta password administrator Linux kita.

Keenam, setelah masuk jendela unetbootin, pilihlah file iso linux kita, dan klik OK. Pilihan distribution dan version kosongkan saja, itu tidak diperlukan. Tunggulah beberapa saat hingga completed.


Jadilah sekarang kita memiliki sebuah LiveUSB yang bisa kita gunakan untuk menginstal desktop Linux di perangkat Netbook. Sangat praktis sekali. Satu keunggulan LivcUSB dibanding dengan LiveCD adalah lebih ringan untuk di boot dan di jalankan.


Selamat ber-Linux !


Catatan teknis : Agar aplikasi unetbootin berjalan sempurna, dibutuhkan satu paket dependensi, yaitu p7zip-full. Paket ini ada di repositori distribusi mayor, yang salahsatunya adalah Ubuntu. Untuk mengisntalnya sangat mudah : sudo apt-get install p7zip-full.

Jumat, 23 Oktober 2009

Tips Membuat Desktop Ubuntu Cepat dan Nyaman (Kasus Lab Komputer Kampus)

Musnahkan saja Compiz hingga bersih dari komputer!

Aktifkan sesi 'reduced_recources' pada window manager Metacity

Buang / non-aktifkan aplikasi/modul pre-loaded yang tidak perlu

Jangan aktifkan virtual desktop, boros memory. Desktop cukup satu

Buang applet tidak perlu dari panel GNOME


Alhamdulillah, lab internet kampus saya sudah melakukan migrasi OS ke Ubuntu Hardy. Saya cukup gembira menyambutnya. Namun apa jadi? Setelah saya coba performance dari desktop Ubuntu di lab internet kampus saya tersebut, hasilnya adalah : saya gemas (sedikit jengkel) !


Kenapa coba? Entah karena setting entah-berantah apa yang berantakan, desktop Ubuntu Hardy jadi terasa amat sangat berat sekali untuk multi-tasking. Bisa dibandingkan, saya hanya membuka Firefox dan OpenOffice.org, namun desktop sudah mendekati hung! Argh! Apa yang salah? Mari kita simak!

Ternyata memang ada beberapa detil yang belum diperhatikan oleh admin lab internet di kampus saya, yang jika mau ditekuni, akan bisa menghasilkan performa desktop Linux yang maksimal. Apa saja itu?


Satu. Modul yang di-load! Lab internet yang tidak memakai sound tidak perlu me-load modul pulse-audio, dan juga bluetooth, dan juga evolution alarm notifications, dan juga beberapa yang lain. Untuk me-non-aktifkan modul yang tidak diperlukan pada desktop, ada di menu System>Preferences>Sessions. Pada jendela konfigurasi modul pre-load, aktifkanlah modul-modul ini saja : Network Manager, dan Volume Manager. Selebihnya harus di-non-aktifkan dengan di un-check, atau bila perlu di-delete. Dibuangnya modul-modul tak berguna, akan sangat membantu menghemat memori karena mengurangi beban kerja modul yang bekerja sebagai background proccess.


Kedua. Paling tabu! Jangan pernah aktifkan Compiz! Mubadzir total! Compiz hanya mainan anak kecil, tak dibutuhkan untuk pekerjaan orang dewasa! Un-install saja paket Compiz dan semua pernak-perniknya dari sistem.


Ketiga. Aktifkan opsi menghemat resources pada window manager metacity (Window Manager GNOME). Untuk melakukannya, gunakan aplikasi gconf-editor yang merupakan utiliti dasar desktop Ubuntu. Tekan Alt+F2, ketik 'gconf-editor' (tanpa petik), enter. Pada jendela konfigurasi gconf-editor, masuk ke menu Apps>Metacity>General, kemudian di kolom sebelah kanan (nilai konfigurasi), cari sebuah string bernama "reduces_resources" (tanpa petik). Centanglah string tersebut, dan rasakan, sekarang desktop Ubuntu menjadi jauh lebih responsif!


Keempat. Ini juga tabu! Jangan aktifkan virtual desktop kecuali hanya satu. Sungguh amat mubadzir! Caranya, pada panel bawah sebelah kanan, pada desktop pager preview, klik kanan dan properties, dan turunkan jumlah desktop dari dua (default), menjadi satu.


Terakhir. Buang semua aplet dalam kedua panel GNOME yang tidak diperlukan. Aplet yang tidak diperlukan tersebut adalah desktop pager preview (panel bawah sebelah kanan dekat trash), aplet user switcher, yang ada di panel atas sebelah kanan sebelah tanggal, yang bertulis nama user yang aktif. Aplet terakhir yang tak berguna adalah aplet tombol shutdown yang ada di panel atas paling kanan. Apa kegunaan membuang item-item (aplet) dalam panel? Kegunaannya adalah untuk mempercepat proses load desktop GNOME.


Demikian sedikit tip dari saya, semoga berguna bagi kita yang mengelola lab internet di kampus / sekolah. Agar Linux terasa nyaman dan memuaskan bagi maha/siswa.


Hidup Linux! Selalu!