13 September 2009

Mencicipi Desktop LXDE






Di antara pilihan desktop environtment Linux, nama LXDE masih cukup baru, tetapi cukup menarik banyak pengguna Linux untuk mengetahui lebih dalam tentang window manager yang satu ini. Apakah mencukupi untuk kebutuhan standar komputasi desktop? Masih kurang? Atau justru dipenuhi dengan limpahan fitur seperti KDE? Mari kita simak!


Beberapa waktu yang lalu saya sempat mencoba paket LXDE yang ada dalam bundel DVD instalasi Mandriva 2009 Spring Free Edition. Kesan pertama yang saya dapat adalah window manager yang satu ini cukup elegan, dan setelah saya explore di beberapa fitur dasar, saya dapati beberapa catatan berikut ini :


MENU : Susunan menu LXDE sangat mirip dengan susunan menu XFCE. Pengaturan icon tombol start/menu sama persis dengan pengaturan icon tombol star/menu pada XFCE, kita bisa menggunakan icon start button kesukaan kita. Caranya sangat mudah, yaitu dengan klik kanan pada tombol menu, dan pilih 'Menu' Settings.


PANEL : Seting default LXDE panel adalah cukup elegan, dengan tampilan hitam metalic seperti taskbar windows vista. Menu seting panel LXDE mirip dengan seting panel GNOME, kita di ebri empat pilihan tampilan, yaitu 'Use System Theme', 'Transparancy', 'Enable Image' dan 'Custom Color'. Adanya pilihan 'Enable Image' memberi kita pilihan untuk menggunakan tema image untuk panel, seperti warna-warna metalik yang indah. Dalam hal ini, tampilan panel LXDE lebih menarik dari panel XFCE.

Pengaturan penambahan item / applet pada panel LXDE, masih sangat sederhana, jauh lebih sederhana dari pengaturan peletakan item panel GNOME, XFCE maupun KDE. Walaupun sederhana, menu penambahan item pada panel LXDE sangat mudah dipahami. Caranya adalah dengan klik kanan pada panel, dan pilih 'Add/Remove Panel Items'.


DESKTOP : Pengaturan wallpaper desktop sama seperti pada desktop XFCE, GNOME maupun KDE. Satu fitur dasar pada desktop LXDE adalah belum adanya integrasi shortcut untuk removable media, seperti USB Flashdisk, CD maupun DVD. Oleh karenanya, jika kita ingin melepas USB Flashdisk, kita harus masuk ke PCManFM dan klik kanan>Umount File System pada disk USB kita. Kekurangan ini menjadi catatan minus paling utama bagi saya, karena fungsi dasar ini menjadi hal terpenting saat ini mengingat dinamisnya mobilitas transaksi data menggunakan media pasang-copot seperti USB Flashdisk.


PREFERENCES : Pengaturan tema desktop LXDE cukup sederhana. Seperti halnya XFCE, desktop LXDE kompatibel dengan tema desktop berbasis GTK GNOME. Kita bisa menggunakan tema icon GNOME di desktop LXDE kita. Tema default LXDE sendiri cukup elegan menurut saya, dengan nouveXT2 icon theme yang mirip dengan icon windows vista, dan tema window manager yang serba hitam metalic.


FILE MANAGER : PCMan File Manager, seperti halnya Thunar File Manager, adalah file manager yang bersifat ringan, tetapi memiliki fitur yang sangat memadai, dan sangat mudah digunakan. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai PCMan File Manager. Shortcut-shortcut PCMan File Manager sama seperti shortcut yang digunakan pada Nautilus File Manager maupun Thunar. Shortcut tersebut antara lain tombol Ctrl+H untuk menampilkan hidden files dan F9 untuk menampilkan side pane. Fitur default yang sangat membantu adalah terintegrasinya pilihan menu 'Open In Terminal' seperti pada Thunar File Manager.


LOGOUT MENU : Pilihan logout menu LXDE sangat lengkap, terdiri dari Shutdown, Reboot, Suspend, Hibernate, Switch User dan Logout. Saya tidak menemui masalah dalam proses shutdown atau Reboot pada desktop LXDE.


KESIMPULAN : LXDE adalah desktop yang ringan, seperti XFCE, tetapi tetap memiliki fungsionalitas yang memadai. Untuk pengguna Llinux menengah, LXDE adalah pilihan yang sangat menarik dan bagus, tetapi untuk pengguna baru (newbie), saya lebih cenderung untuk menyarankan XFCE, karena faktor integrasi dengan removable media.


KELEBIHAN :

  • Ringan

  • Tampilan indah

  • Cukup mudah dimengerti.

KEKURANGAN :

  • Belum ada aplikasi untuk menangkap tampilan desktop, seperti Ksnapshot pada KDE, Gnome-Screenshot pada GNOME, maupun desktop screenshot pada XFCE. Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, saya menggunakan Gnome-Screenshot yang merupakan bagian dari paket gnome-utils.

  • Belum ada integrasi removable media dengan desktop.


Begitulah sedikit preview saya mangenai desktop LXDE, semoga saja dengan makin banyaknya pilihan desktop environtment di Linux, akan membuat Linux menjadi pilihan menarik untuk berbagai kebutuhan pengguna komputer. Dan semoga, di rilis-rilis LXDE yang mendatang, akan semakin lengkap dengan berbagai fitur dasar maupun pernak-pernik fitur tambahan yang dibutuhkan pengguna komputer untuk kebutuhan sehari-hari.


Selamat ber-ekplorasi !

2 comments:

akmal said...

Terima kasih sudah daftar dan mengikuti lomba ILC 2009, di tunggu naskahnya...........by Panitia Lomba

dani said...

setelah make Xfce di Gentoo, kayaknya saya mo nyoba lagi make LXDE di openSUSE. review-nya mangtabs abis mas..makasi :)