Skip to main content

Posts

Showing posts with the label multimedia

Mengkompresi / Memperkecil File MP3 menggunakan Audacity di Desktop Linux Ubuntu

Pilihan kualitas suara. Semakin rendah, maka kualitas suara akan semakin rendah, tetapi ukuran file akan semakin kecil. Kualitas normal sebuah file mp3 adalah pada kecepatan 128 Kbps. Kualitas "kompromis" menurut hasil coba-coba saya, adalah berkisar antara 48-64 Kbps. Pada kisaran tersebut, file mp3 kita akan menyusut hingga tinggal sepertiganya saja. Kualitas di bawah kisaran 48 Kbps sudah sangat jelek dan tak layak dengar. Omong-omong, saya baru saja mencoba sebuah aplikasi Windows yang fungsinya adalah untuk memperkecil ukuran file mp3. Tujuannya adalah untuk menghemat space memori handphone saya yang secuil itu. Awalnya saya berharap besar, tapi ternyata saya kecewa! Ternyata aplikasi tersebut hanya mampu meng-kompresi file mp3 hanya setengah dari ukuran asli. Hummmh . Nah , sebenarnya, saya sudah memiliki cara sendiri yang ternyata lebih ampuh, yaitu menggunakan aplikasi Linux yang bernama Audacity . Semua pasti sudah pernah mendengar Audacity bukan? Ya! ...

Meng Copy File DAT VCD Dalam Linux. Sebuah Tulisan Sederhana

Diantara kita semua, menonton filem dari media VCD masih sering kita dapati. Penyebabnya antara lain, media distribusi filem VCD masih banyak dijumpai di rental persewaan filem. Seringkali, kebanyakan dari kita, lebih menyukai untuk meng-copy terlebih dahulu file .DAT atau .dat yang ada di keping VCD kita, kemudian menontontonnya dengan media player. Ada yang bilang, menonton filem langsung dari keping VCD/DVD kurang nyaman, karena ada bunyi “kretek-kretek-kretek” dari optical drive DVD/CDROM. Di platform Windows, meng-copy file .dat dari kepingVCD sangat mudah, tinggal copy-paste dari keping VCD yang ada di direktori /mpegav/avseq01.dat; avseq02.dat dan seterusnya. Namun apa yang terjadi di Linux? Saat saya mencoba copy-paste file .dat dari keping VCD, yang terjadi adalah error! Ternyata file dat dibaca semagai image yang hanya bisa di baca secara langsung dari pemutar media Mplayer. Apakah memang tidak bisa? Ya! Di desktop Linux, kita tidak bisa melakukan copy-pa...

Menikmati Hiburan Multimedia Format : Convert flv to avi Di Linux

Dalam era digital saat ini, distribusi konten hiburan digital sudah sangat beragam. Taruhlah untuk video. Begitu banyak format video yang digunakan untuk mendistribusikan konten-konten hiburan (film dan lain-lain). Permasalahannya adalah, tidak semua sistem operasi secara default mendukung format-format multimedia popular (baru), katakanlah seperti flash flv dan quicktime 3gp. Solusinya sebenarnya mudah, cari saja aplikasi pemutar format multimedia lengkap, atau codec multimedia yang lengkap. Namun seringkali, kita tetap menginginkan menyimpan koleksi file multimedia kita dalam format tertentu, dengan tujuan, bisa dinikmati oleh banyak rekan yang lain (yang belum tentu memiliki software multimedia lengkap). Lalu bagaiamana? Tentu mudah! Kita membutuhkan software converter untuk mengkonversi file multimedia dari format ini ke format itu, sebagai misal dari 3gp ke avi. Di windows, aplikasi converter file multimedia cukup banyak pilihannya. Di Linux pun, wal...

Belajar Alur Pemaketan Software di Linux, Berharap Bisa Konsen dan Lebih Expert di Bidang Linux-Packaging !

Satu dimensi dalam sistem operasi yang wajib ada bagi saya adalah Multimedia Center. Saya menginstalasi Mplayer GUI di Kate OS, beserta dengan Amarok dab k3b. Sayang sekali Mplayer GUI tidak juga berjalan lancar di Kate OS. Memang bisa menjalankan DVD dan semua file video lain, tetapi tidak bisa di maximize dan fullscreen. Setelah coba dan coba, terakhir saya mendapati satu front-end Mplayer yang sangat bagus yaitu Smplayer. Sangat ringan, dan memiliki fungsionalitas banyak sekali. Persoalannya adalah, dimana saya bisa mendapatkan paket installer Smplayer untuk distribusi Slackware? Saya coba kunjungi http://www.packages.slackware.it dan saya susah mendapatkan paket Smplayer. Karena bingung saya terpikir cara praktis. Saya gunakan saja binari Smplayer milik Ubuntu. Tanpa banyak pertimbangan, saya pun langsung mengeksekusi Smplayer yang ada di /root Ubuntu, dan muncul banyak dependensi yang kurang ( ya iyalah! ). Tanpa bingung juga saya susun sendiri daftar dependensi ya...

Are You Ready to Amarok ?

Saya sering merasa aneh sendiri. Dalam keseharian, saya adalah pengguna GNOME dan XFCE, tetapi saya sangat menyukai aplikasi-aplikasi KDE. Amarok, K3B, Kid3, Krita, Kchmviewer, SMPlayer. Entah mengapa bagi saya aplikasi KDE (dan desktop KDE sendiri) terlihat sangat elegan, profesional dan taste 'Linux' sekali. Sayang sekali konsumsi memory yang lumayan boros membuat saya jarang menggunakan desktop KDE untuk 'everyday using'. Walaupun begitu, saya tetap dan hampir selalu menggunakan aplikasi-aplikasi KDE untuk menyelsaikan pekerjaan sehari-hari. Dan yang membuat saya gembira adalah, standar desktop KDE terbaru yang ditulis dengan Qt4 yaitu KDE 4, membawa versi terbaru dari aplikasi-aplikasinya. Sorotan saya yang paling utama tentu pada Amarok. Aplikasi Music Organizer paling powerful di desktop Linux. Jika di Amarok 1.4 (versi stabil terakhir untuk standar desktop KDE 3.5) ada banyak fitur mumpuni, bagaimana dengan Amarok 2 ? Dari splash screen Amarok 2, ada satu kalima...

Kreativitas Itu Tak Pantas Mati

Linux adalah sistem operasi yang membawa konsep lisensi GPL. Lisensi GPL ini terimplemntasi juga dalam format untuk kebutuhan lain. Untuk format dokumen tertulis, Linux membawa format ODF dengan ekstensi .odt, yang merupakan format dokumen default untuk aplikasi office suite paling populer OpenOffice.org. Untuk kebutuhan lain pun sama. Jika format distribusi audio yang paling populer adalah mp3, maka Linux mempunyai format tersendiri sebagai implementasi dari GPL, yaitu ogg vorbis. Format video yang di bawa linux pun sama, yaitu ogv dan ogg. Permasalahannya tentu saja, sangat sedikit distributor atau developer konten hiburan yang memaketkan produk hiburannya dalam format ogg vorbis (audio dan video). Padahal, kebanyakan distribusi besar Linux, tidak memaketkan pemutar multimedia untuk format populer semacam mp3. Lalu gimana? Its simple! Kita hanya perlu sebuah converter! Dan ada banyak converter audio-video ke format ogg. Untuk converter video-to-ogg, ad...

Linux Tanpa Internet? Siapa Takut?

Masalah utama bagi para pengguna pemula Ubuntu adalah : tidak bisa memutar VCD/DVD dan juga koleksi MP3. Ada Rhythmbox untuk manajemen musik, dan juga Totem sebagai default video player. Tapi tetap saja kedua aplikasi tersebut hanya mau memutar format-format open source yang sangat asing dan jarang digunakan. Solusinya adalah : instal w32codecs sebagai codec multimedia komplit, dan install Mplayer sebagai default video player baru. Kemudian install XMMS sebagai music player yang baru. Banyak forum-forum ubuntu di internet membahas hal tersebut, namun (setahu saya) semuanya menggunakan solusi online. Artinya, untuk menambah paket-paket tersebut, komputer ubuntu kita harus terhubung ke internet. NAH, DI SINI LAH MASALAH TERBESAR PERKEMBANGAN LINUX DI INDONESIA! Sebagian besar pengguna komputer di negeri kita, belum terhubung ke internet. Masalahnya simpel, langganan internet (dalam paket apapun) masih tergolong kebutuhan yang mahal, dan masih sangat sedikit yang sudah mempunyai koneksi i...