09 November 2008

Keputusan Terbaik

Ubuntu 8.10 ( Interpid ) sudah rilis. Sangat cepat, cuma berjarak 6 bulan dari Hardy ( 8.04 ). Kalau kita lihat distribusi yang lain pun, polanya hampir sama. Paling tidak 1 tahun sekali sudah rilis versi yang lebih baru. Bagi sebagian pengguna awal Linux, dan mungkin juga pengguna Linux lain, hal tersebut sangatlah membingungkan dan menggoda.

Jika OS komersial seperti Microsoft Windows, akan merilis versi barunya dalam jarak yang cukup lama ( sekitar 4 tahun ), maka kebanyakan distribusi Linux merilis versi terbarunya dalam jarak waktu yang sangat dekat. Hal tersebut, tentu cukup membingungkan, karena kita harus melakukan instalasi ulang setiap versi yang lebih baru dirilis. Kita harus memindah-mindah dulu data yang ber-gigabyte, intstalasi yang melelahkan. Lalu mana yang terbaik ?

Sebenarnya kalau kita review secara lebih detil, rilis versi baru hanya merubah satu hal : mengganti versi paket ( software ) yang ada dalam distribusi. Paket desktopnya (KDE, Gnome), paket aplikasi fungsional ( Office, Multimedia, Internet, dll ) dan paket dependensi dasar sistem. Kemudian, kalau kita review ke paket-paket tersebut, sebenarnya tidak ada perbedaan yang terlalu jauh antara versi paket dalam distribusi yang yang sebelumnya dengan yang baru dirilis.

Jadi, menurut hemat saya, adalah kurang efektif untuk selalu bergonta-ganti versi distribusi, apalagi gonta-ganti distribusi yang dipakai. Apalagi untuk penggunaan korporasi ataupun bisnis. Hal tersebut sangatlah tidak praktis dan tidak efisien ( membuang waktu dan biaya ). Jadi, langkah yang paling bijaksana adalah untuk menetapkan keputusan untuk menggunakan suatu versi distribusi tertentu untuk digunakan. Akan lebih baik kalau kita menggunakan versi yang mempunyai support sistem yang lama seperti versi LTS ( Long Term Support ) dari distribusi ubuntu.

Tentu saja akan ada pendapat "kan tinggal update lewat internet". Tentu saja akan saya jawab, seperti dalan posting saya yang lalu-lalu, bahwa internet masih mahal di Indonesia. Dan kalaupun mau mendownload manual lewat warnet adalah lebih tidak maksud akal.
Jadi intinya adalah, menurut pengamatan saya, tidak ada yang namanya ketinggalan fitur atau tehnologi yang signifikan dalan setiap versi distribusi. Katakanlah, kita seyogyanya mengganti versi distribusi kita setelah 2 tahun. Dan saat waktunya akan tiba, siap-siaplah untuk mengupdate sistem.

CD UBUNTU GRATIS

REPOSITORI UBUNTU


3 comments:

Anonymous said...

setuju

Dhanie said...

hai mas Alwan, terima kasih udah pernah berkunjung ke blog saya (kusumaningati.blog.com).
Tentang ganti2 distro atau nyobain distro terbaru, emang sich kadang agak boros and ngrepoti... Tapi kalau ada distro favorit yang baru rilis gak tahan tuch kalo gak nyobain.. Bawaannya penasaran pengen tahu apa yang baru :-D
Padahal setelah dicoba kadang gak terasa bedanya, theme nya doang yang kelihatan beda hihihi..

rotyyu said...

Kalau utk korporasi kayaknya memang lebih cocok menggunakan distro dengan dukungan jangka panjang macam Ubuntu dengan LTS-nya. Tapi kalau buat mahasiswa atau anak muda seperti saya ini tidak ada alasan untuk tidak upgrade ke rilis terbaru atau bahkan fresh instal juga gpp (makanya data diletakkan di partisi terpisah), apalagi internet di kampus kan gratis....