20 May 2009

Bermain Virtualisasi Yang Menyenangkan






Virtualisasi adalah salah satu solusi terbaik untuk 'system testing'. Pasaran utama dari tehnologi virtualisasi mungkin bukan untuk end-user, tetapi lebih ke korporasi yang membutuhkan sebuah tool untuk 'system-testing'. Mencoba sistem baru sebelum di implemented ke IT perusahaan.
 

Walaupun begitu, tehnologi virtualisasi bisa juga menjadi pilihan yang baik bagi end-user untuk menjalankan, atau sekedar melakukan testing terhadap berbagai macam sistem operasi dalam satu sistem operasi. Alih-alih dual/triple/multi boot dalam satu komputer, menjalankan virtualisasi akan terasa lebih menghemat resources dan juga lebih efektif untuk kendali sistem. 


Anggap saja ada satu kasus, dimana seorang Linux user masih 'membutuhkan' sistem operasi Microsoft Windows untuk update informasi 'tehnologi terkini' dari platform Ms. Windows. Menjalankan dual-boot mungkin lebih efektif dalam hal fungsionalitas OS Windows, tetapi akan terasa membuang resource komputer kalau OS utama yang di gunakan adalah Linux. Selain itu, solusi dual-boot masih berpotensi besar untuk mengalami 'lose control' dalam hal keamanan sistem dari virus dan malware lain. 

Situasinya menjadi cukup berbeda kalau kita memilih menggunakan virtualisasi. Memang akan sama saja kalau kita sembarangan mengakses device eskternal di OS Windows kita walaupun kita berada dalam ruang kendali mesin virtual. Tetapi jika kita lebih hati-hati, akan lebih mudah melakukan kontrol keamanan dari sistem Linux kita. 


Software virtualisasi yang di kenal saat ini, cukup beragam. Dari yang senior seperti Qemu, Xen, Vmware, Virtualbox hingga Parallels Desktop. Satu percobaan yang membuat saya merasa cukup puas adalah saat mencoba VrtualBox PUEL. 


Seperti mesin virtual yang lain, cara kerja VirtualBox pun sama. Membuat disk image, kemudian menggunakan disk image itu untuk menjalankan sistem. Secara umum, step by step konfigurasi VirtualBox sangat simpel dan mudah. Kalau boleh saya katakan, jauh lebih mudah daripada QemuLauncher (Qemu GUI). 


Setelah kita men-download dan menginstalasi VirtualBox, kita akan di suguhi pilihan membuat 'New Virtual Machine'. Opsi pertama dalam pembuatan 'Virtual Machine' adalah jenis OS, dan selanjutnya alokasi memory yang digunakan. Sebagai default, alokasi memory yang digunakan adalah 192 MB. Sudah cukup untuk 'sekedar' menjalankan OS Ms. Windows dengan aplikasi-aplikasi standar.

Tahap berikutnya, kita akan disuguhi pilihan, apakah akan menggunakan partisi hardisk lokal yang ada, atau membuat disk image. Saya lebih memilih membuat disk image, karena lebih aman. Tahap selanjutnya adalah, dan yang cukup menarik, kita di beri pilihan apakah akan membuat disk image itu bersifat 'dinamis' atau 'fixed static'. Dinamis berarti, ukuran image disk bisa membesar mengikuti kerja virtual machine kita, semisal kita tambahi dengan banyak aplikasi di dalamnya. Pilihan 'fix static' berarti disk image tidak akan membesar, melebihi kapasitas yang kita tentukan. Dalam hal ini, saya lebih memilih 'fixed static' dan selanjutnya saya mengalokasikan disk image sebesar 5 GB.


Tahap yang cukup lama dari proses pembuatan mesin virtual dalam VirtualBox adalah pada pembuatan disk image. Setalah disk image selesai di buat, proses pembuatan mesin virtual selesai. Kita tinggal menjalankan OS kita, dalam kasus saya adalah Ms. Windows XP. Setting fungsionalitas lain sangat mudah dilakukan dari pilihan 'Settings' pada jendela VirtualBox. Setting boot sendiri, secara default di buat seperti setting boot BIOS komputer pada umumnya : Floopy-CDROM-hardisk. 


Setting yang paling penting adalah 'shared direktory'. Direktori mana dalam sistem Linux kita yang akan di shared di mesin virtual Windows kita. Bagi saya sendiri, yang paling penting untuk di shared, tentu direktori /media. Satu fungsi penting men-shared /media adalah karena saya belum bisa mengaktifkan USB agar bisa di gunakan dalam mesin virtual. Cara yang paling praktis adalah mengakses USB dari direktori shared /media tersebut ^_^


Secara keseluruhan, VirtualBox cukup memuaskan dan interaktif, serta yang terpenting, sangat mudah dioperasikan.

Catatan teknis !
Sistem yang saya pakai :
PC Intel Pentium IV 2,4 GHz
Memory 512 MB
Ubuntu Linux 8.04 Hardy Heron

Link terkait > | Download VirtualBox |



2 comments:

dwilicious said...

tahu cara mengkoneksikan network guest os dengan host os pada virtualbox? msh bingung ni..

kalau di vmware ada opsi koneksi host only atau bridged, tp di virtual box belum pernah coba

rosyidi alwan said...

belum mencoba itu mas dwi..