Sabtu, 19 Desember 2009

Membuat Wallpaper / Background Slideshow Untuk Desktop GNOME


Contoh source code skrip. Perbesar gambar.



Jika kita pernah menggunakan sistem operasi Mac OS X, kita akan mendapati satu fitur dsesktop yang cukup interaktif, yaitu gambar latar belakang desktop (wallpaper) yang selalu berubah setiap tempo waktu beberapa detik (sildeshow). Ternyata, di desktop GNOME Linux, kita bisa membuat wallpaper seperti itu, dan dengan cara yang cukup simpel.


Dari hasil searching saya di internet, saya mendapati sebuah skrip yang berfungsi untuk membuat slideshow wallpaper di desktop GNOME, yang berbentuk file konfigurasi .XML. Intinya adalah, skrip tersebut berfungsi membuat slideshow dari beberapa gambar yang sudah kita pilih, dengan jarak pergantian waktu yang kita tentukan sendiri.


Skrip tersebut sangat sederhana, seperti halnya skrip HTML, yang isinya berisi pengaturan gambar-gambar mana saja yang kita gunakan, dan kemudian waktu transisi antar gambar. Untuk skrip aslinya, saya men-download-nya dari sebuah | halaman internet |.


Dari skrip yang saya dapat tersebut, hanya tersedia empat pilihan gambar saja, dan untuk menambahnya, kita tinggal meng-copy dua section dari skrip tersebut, yaitu Section nama file awal, dan section nama file berikutnya dan waktu transisinya (dalam detik).


Dari skrip defualt yang saya dapat tersebut, waktu transisinya sangat lama, yaitu satu jam (3600 detik). Karena saya mengharapkan efek pergantian yang cepat dan interaktif, maka saya ganti saja menjadi 15 detik.


Cara mengaktifkannya sangat mudah. Setelah kita selesai membuat skrip XML, kita bisa meletakannya di manapun yang penting satu direktori dengan gambar kita (misal /home/anu/Pictures, atau /usr/share/backgrounds). Setelah itu, kita klik kanan pada desktop GNOME, dan pilih 'Change Desktop Background' kemudian pilih 'Add`, dan pilih opsi 'All Files', kemudian pilih file skrip XML kita tersebut. Jadilah sekarang desktop slideshow di GNOME aktif, dan tentu saja, menarik untuk dinikmati!


Begitulah, skrip untuk membuat wallpaper/background slideshow di desktop GNOME. Sangat sederhana, dan tidak membutuhkan efek compositing desktop ataupun resource memori yang besar.


Akhir kata, selamat mencoba, dan salam Linux selalu !!

Senin, 14 Desember 2009

Tetap Damai ber-Linux dengan BibbleTime, aplikasi Alkitab Digital di Linux



Pada posting saya beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas tentang menjalankan sebuah aplikasi Windows yaitu Alkitab Digital 2.7 di desktop Linux dengan menggunakan Wine. Nah, ternyata, di lingkungan Linux pun sudah terdapat aplikasi sejenis yang sebenarnya sudah sangat bagus dan lengkap, namanya adalah BibbleTime.


Bibble Time adalah sebuah aplikasi Alkitab digital yang (secara khusus) dibuat untuk desktop KDE, namun tentu saja dapat dijalankan di desktop X11 apapun. Seperti kebanyakan aplikasi berbasis Qt, Bibble Time memiliki interface yang sangat eyecandy dan enak di pandang. Dengan dominasi warna biru, serta splash screen yang elegan.


Dan tentu saja, keunggulan aplikasi ini adalah pada isinya. Bibble Time telah menyertakan beberapa versi Alkitab, yang antara lain adalah King James Version (KJV). Selain itu, yang paling luar biasa, Bibble Time juga menyertakan alkitab versi Bahasa Ibrani dengan tulisan Ibrani (Hebrew). Hal tersebut tentu sangat bermanfaat bila kita ingin sedikit mempelajari bahasa Ibrani. Selain bahasa Ibrani, Bibble Time juga disertai dengan bahasa dan tulisan Yunani Kuno.


Yang paling menarik dari itu semua adalah, kita bisa membuka semua versi Alkitab tersebut dalam satu window, sehingga kita bisa melihat dan memahami semuanya dalam satu tampilan. Hal tersebut tentu sangat bermanfaat bagi kita yang ingin mengetahui perbedaan-perbedaan kosakata yang digunakan dalam berbagai versi Alkitab.


Aplikasi Bibble Time dapat kita jumpai dalam repositori beberapa distribusi besar, dan sebagi contoh adalah Ubuntu. Selain itu, bagi kita yang ingin mendapat Bibble Time pre-installed, kita bisa memilih dua dari distro turunan Ubuntu, yaitu Ubuntu Christian Edition, dan Ichthux.


Secara keseluruhan, aplikasi Bibble Time adalah sangat lengkap, fungsional dan interaktif. Satu kekurangan terbesarnya hanya satu, belum mendukung terjemahan versi Bahasa Indonesia. Mungkin pada versi Bibble Time berikutnya, akan ada anak bangsa yang akan membuat versi terjemahan untuk di sematkan dalam aplikasi ini.


Semoga bermanfaat, dan semoga desktop Linux bisa memberi kita lebih dari sekedar manfaat praktis teknologi, tetapi juga spiritualitas.

Sabtu, 12 Desember 2009

Mengkompresi / Memperkecil File MP3 menggunakan Audacity di Desktop Linux Ubuntu


Pilihan kualitas suara. Semakin rendah, maka kualitas suara akan semakin rendah, tetapi ukuran file akan semakin kecil. Kualitas normal sebuah file mp3 adalah pada kecepatan 128 Kbps. Kualitas "kompromis" menurut hasil coba-coba saya, adalah berkisar antara 48-64 Kbps. Pada kisaran tersebut, file mp3 kita akan menyusut hingga tinggal sepertiganya saja. Kualitas di bawah kisaran 48 Kbps sudah sangat jelek dan tak layak dengar.



Omong-omong, saya baru saja mencoba sebuah aplikasi Windows yang fungsinya adalah untuk memperkecil ukuran file mp3. Tujuannya adalah untuk menghemat space memori handphone saya yang secuil itu. Awalnya saya berharap besar, tapi ternyata saya kecewa! Ternyata aplikasi tersebut hanya mampu meng-kompresi file mp3 hanya setengah dari ukuran asli. Hummmh.


Nah, sebenarnya, saya sudah memiliki cara sendiri yang ternyata lebih ampuh, yaitu menggunakan aplikasi Linux yang bernama Audacity. Semua pasti sudah pernah mendengar Audacity bukan? Ya! Itu adalah aplikasi open source sound editor yang sangat powerful. Bagaimanakah cara untuk memperkecil ukuran file mp3 menggunakan Audacity?


Pertama, instalasi Audacity. Karena aplikasi ini sudah tenar, maka sudah ada di repo distribusi besar dunia. (Sebagai contoh saya memakai Ubuntu).


$ sudo apt-get install audacity


Kedua, buka file mp3 kita. Melalui File>Open, atau Ctrl+O. Ketiga, pilih menu File>Export, dan masuk pilihan Options. Pilih filetype output ke mp3, dan pilih Quality-nya ke kisaran 48-64 Kbps. Semakin rendah, maka semakin kecil ukuran file, tetapi kualitas suara semakin jelek. Dalam hal ini, saya memilih kualitas pada 48 Kbps. Setelah itu kita OK. Final, kita sudah memiliki file mp3 dengan ukuran yang lebih kecil. Dalam contoh saya, file asli mp3 saya berukuran 3,8 MB, dan setelah saya turunkan kualitasnya ke pilihan 48 Kbps, ukuran filenya menjadi 1,5 MB. Sangat besar bukan penurunannya?


Begitulah cara mengkompresi file mp3 dengan Audacity di desktop Linux, sangat simpel dan mudah sekali! Selamat mencoba!


===============

Ada pilihan kualitas suara pada opsi Export file di Audacity, yaitu dari 8 Kbps sampai 320 Kbps. Kualitas standar adalah 128 Kbps (ukuran normal). Dari hasil coba-coba saya, kualitas yang “paling kompromis” untuk kegunaan di simpan di media phone selular adalah kualitas antara 48-64 Kbps. Kualitas di bawah 48 Kbps, walaupun ukurannya sangat kecil, tetapi kualitas suaranya sudah sangat jelek dan tidak layak dengar. Bagi kita yang punya gadget ber-storage memory besar, saran saya adalah tak perlu pakai proses kompresi, karena kualitas suara mp3 akan menurun.

Koneksi Data Handphone Nokia dengan Desktop Linux Ubuntu





Dalam banyak hal, Linux adalah sebuah sistem operasi yang sangat modern. Apakah itu? Yaitu dalam hal deteksi hardware. Baru-baru ini saya membeli handphone Nokia 2330 Classic yang ternyata memiliki koneksi Bluetooth. Maka saya pun langsung mencoba meng-koneksikan handphone tersebut ke desktop Ubuntu 8.04, dan ternyata sangat lancar, tanpa perlu menginstalasi driver apapun. Device bluetooth yang saya gunakan adalah USB Bluetooth Class 1, yang di Linux terbaca sebagai Bus 003 Device 004: ID 1caa:0001.


Langkah untuk mengaktifasinya sangat mudah. Tancapkan USB Bluetooth, pastikan service Bluetooth Manager diaktifkan, kemudian restart sistem atau restart desktop GNOME (logout). Aktifkan Bluetooth di HP, dan klik kanan pada icon bluetooth di panel atas kanan GNOME, kemudian Browse Device, dan pilih Connect. Akan ada notifikasi di layar HP bahwa desktop Ubuntu meminta hubungan, kemudian masukan password terserah kita (123, 1234, 1111, 222, apapun). Setelah password di masukan, sekarang desktop Ubuntu yang akan meminta password, masukkan password yang kita tulis di HP. Jadilah sekarang HP Nokia terhubung dengan desktop Ubuntu 8.04 dengan sempurna. Di desktop, HP kita akan terbaca seperti semacam device removable media, dan semua folder konten HP kita akan terbaca seperti pada sebuah drive USB Flashdisk.


Untuk mengirim file dari komputer ke HP, tinggal klik kanan pada icon bluetooth di panel GNOME dan pilih Send File, kemudian pilih satu file, dan pilih device kita, kemudian Connect. Untuk mengirim file dari HP ke komputer lebih mudah lagi, karena kita tinggal mengcopy dari content folder HP yang terbaca seperti halnya drive USB Flashdisk.


Bagi kita yang masih memakai KDE 3.5x, fasilitas pengiriman file dari komputer ke HP dengan OBEX lebih praktis, karena bisa mengirim banyak file sekaligus. Caranya pun sangat mudah. Setelah HP kita terbaca di Konqueror seperti halnya Flashdisk, kita tinggal klik kanan pada icon bluetooth yang ada di panel KDE sebelah kanan bawah, dan pilih Send Files. Pada jendela pengiriman file, drag-lah beberapa file sekaligus ke kolom pengiriman, dan klik Send. Jadilah kita mengirim beberapa file sekaligus dari komputer ke HP.


Selamat ber-Linux ! ^^

Jumat, 11 Desember 2009

Bernostalgia dengan Winamp di Linux





Untuk urusan memutar mp3, di Linux sudah terdapat banyak pilihan aplikasi yang selain mampu memutar dengan sempurna, juga memiliki fitur-fitur yang sangat lengkap, sebagai contoh adalah AmaroK, dan Exaile.


Pun jika kita menyukai pemutar mp3 ala Winamp, di Linux kita bisa mendapati XMMS dan Audacious, yang memang didesain sangat mirip dengan Winamp. Namun, bagi kita yang notabene merupakan “veteran” pengguna OS Windows, kadang masih suka teringat dengan nostalgia lama dengan aplikasi-aplikasi Windows, seperti Winamp (yang sudah sangat melegenda).


Lalu karena hal itu, saya mencoba menginstalasi Winamp dengan Wine. Sistem yang saya pakai adalah Ubuntu 8.04 dan Wine 1.00 dan Winamp 5.22. Tanpa perlu konfigurasi Wine, saya langsung eksekusi file setup Winamp, dan proses berjalan sangat lancar. Setelah instalasi selesai, langsung saya jalankan dan ternyata ada beberapa Error! Winamp 5.22 tidak bisa berjalan dengan lancar pada modus Modern Skins dan Bento Skins (terasa berat dan patah-patah). Kemudian, saya ganti Skins ke Classic, saya restart Winamp, dan sekarang berjalan lancar!


Walaupun berjalan lancar dengan skins Classic, tetap saja ada ke'aneh'an saat saya coba menggeser-geser window Winamp ke berbagai sudut desktop Linux. Window Winamp akan meloncat-loncat tak tentu arah dan kadang menghilang sama sekali. Karena bingung, saya restart, dan kembali normal. Tapi saat saya coba geser-geser lagi, akan terulang hal yang sama. Walaupun begitu, dari segi suara, Winamp berjalan sangat normal di Linux. Mungkin saja nanti ada yang me-porting Winamp agar menjadi binari Linux dan semakin melengkapi pilihan aplikasi pemutar mp3 Linux, mendampingi AmaroK, Rhythmbox dan Audacious.


=========================

Dulu saya sempat menjumpai versi lama dari 'sebuah aplikasi' yang diberi nama Winamp Linux, namun setelah saya download, ternyata itu adalah aplikasi yang sudah sangat tua dan membutuhkan library-library tua yang sudah tak dikembangkan lagi. Alhasil, saya tak bisa menjalankan aplikasi tersebut di sistem Ubuntu 8.04 saya. Mungkin saja nanti ada yang kembali tertarik memporting Winamp ke Linux. Atau pun kalau tidak, pada versi-versi Wine berikutnya, kita akan dapat 'bernostalgia' dengan lebih lancar bersama Winamp di Linux.

Selasa, 01 Desember 2009

Menjalankan Alkitab 2.70 di Ubuntu Linux dengan Wine



Bagi umat muslim, membaca Al Qur`an ataupun melakukan searching ayat-ayat Al Qur`an sudah bisa dilakukan dengan mudah di Linux. Kita mengenal aplikasi Zekr, yang bahkan sudah ada dalam repositori Ubuntu. Sebuah aplikasi open source Al Qur`an digital untuk linux yang sangat powerful dan komprehensif, walau cukup berat. Yang paling penting tentu saja sudah ada built-in bahasa Indonesia untuk aplikasi Zekr, sehingga sangat mudah digunakan oleh umat muslim Indonesia.


Bagaimana dengan Umat Kristiani? Adakah aplikasi Alkitab digital untuk Linux? Ada. Setahu saya ada aplikasi bernama BibleTime, namun nampaknya belum ada built-in versi bahasa Indonesia-nya. Akhirnya, saya mendapat sebuah aplikasi Alkitab digital Bahasa Indonesia yang sejatinya merupakan aplikasi Windows, namun ternyata bisa dijalankan di Linux dengan menggunakan Wine.


Pertama, kita download aplikasi tersebut dari internet. Pengelola situs tersebut membagi paket installer Alkitab digital dalam 9 patch yang terpisah. Nampak tidak praktis, namun mungkin tujuannya agar tidak berat jika di download dengan koneksi yang lambat. Setelah semua patch di download, kita ekstraks semuanya dalam satu folder. Kita bisa menggunakan program unzip, unp, atau pun dengan GUI.


$ unzip *.zip

$ unp *.zip


Setelah itu, eksekusi file SETUP.EXE.


$ wine SETUP.EXE


Akan ada peringatan error, abaikan saja dan lanjutkan proses instalasi dengan menekan tombol instal (gambar komputer). Proses instalasi sangat singkat, dan kita bisa mengakses shortcut program Alkitab dari menu Wine>Programs>Alkitab 2.70


Secara keseluruhan bisa berjalan lancar dengan wine, hanya saja window tidak bisa di fullscreen. Kemudian, teks tidak bisa di copy-paste di OpenOffice.org. Walaupun begitu, fitur pencarian ayat dan kata-nya berjalan sempurna. Selain itu, ada pilihan versi Alkitab yang digunakan, yaitu Versi Terjemahan Resmi, Versi Bahasa Sehari-hari dan Versi King James.