31 July 2007

Linux dan Perintah Teks

Dulu, sebelum saya memakai Linux, dan hanya tahu sedikit-sedikit tentang Linux di majalah, saya mendapati sebuah mitos yang menakutkan, dan saya pun tidak percaya akan mitos tersebut. Mitos tersebut menyebutkan bahwa untuk mengoprek OS Linux, masih menggunakan perintah teks (command line) layaknya OS DOS. Saya pun tidak percaya. Bagaimana mungkin sebuah OS dengan GUI yang begitu menarik (waktu itu saya cuman lihat screenshoot di majalah-majalah komputer ), harus menggunakan perintah teks untuk menjalankan fungsi-fungsi utamanya?
Ketidakpercayaan saya semakin menguat ketika pertama kali menggunakan LiveCD, kesan saya adalah : tidak ada OS yang mampu dijalankan langsung dari CD seperti ini! Tidak mungkin untuk oprekisasi-nya menggunakan perintah teks. Selain sistem LiveCD yang luar biasa, untuk intalasi-pun kita hanya tinggal klik icon "install" yang ada di desktop LiveCD, dan Linux pun dengan mudahnya terinstal di PC kita.
Kepanikan pertama muncul (dan juga munculnya keraguan akan OS ini) ketika OS ini ternyata tidak mampu memutar mp3 (waktu itu saya memakai ubuntu). Setelah utak-atik sana-sini, saya pun benar-benar menyerah. Saya pun tiba-tiba berkeyakinan, bahwa mitos itu memang benar, dan setelah berkonsultasi dengan senior saya, Mas Panji, memang begitulah adanya. Linux adalah terminal, dan menyebut terminal berarti menyebut alat utama Linux. Walau kecewa, saya sudah terlanjur sesumbar bahwa Linux itu mudah, akhirnya mau tidak mau mempelajari perintah-perintah teks yang ada di Linux, yang dijalankan lewat terminal. Dan ternyata ! : SUSAHNYA MINTA AMPUN! Ya!, satu karakter saja kita salah mengetikan perintah teks, maka perintah tidak dikenali (command not found ). Saking susahnya, saya sempat menyerah dan memilih distro yang siap pakai (yaitu Mandriva Linux). Setelah sekian lama ber-Mandriva, saya pun bosan karena hoby utak-utik saya tidak tersalurkan, namun saya pun tidak tahu harus bagaimana. Kebuntuan saya mendapat titik terang ketika majalah Linux andalan saya mengulas proses instalasi program di Linux, mulai dari rpm, dpkg, dan tgz. Saya pun langsung kembali instal ubuntu dan download aplikasi dpkg dari situs debian. Aplikasi yang pertama saya download adalah XMMS dan Beep Media Player, serta gxine. Alangkah gembiranya saya setelah mengetikan perintah sudo dpkg -i di terminal, icon XMMS, BMP, dan gxine muncul di menu application. Dan, kebahagiaan tersebut semakin lengkap ketika BMP dengan lancar memutar Can`t Stop Loving You-nya Van Hallen saat itu.
Keberhasilan ber-command line yang sederhana itu, memulihkan harapan saya dalam ber-Linux dan semakin menambah semangat saya untuk mencari tahu. Dan puncak dari kebahagiaan saya ketika saya mengenal apt-get-nya (dan tahu apa itu repository) ubuntu. Dalam waktu sekejap, apt-get dengan mudahnya menginstal aplikasi yang kita butuhkan.
Jadi, kesimpulannya adalah : tidak bisa dipungkiri bahwa command line adalah salah satu hal yang paling mendasar dalam pengoperasian Linux. Namun, hal itu sama sekali bukan menjadi halangan dalam proses linuxisasi kita, karena ternyata di situlah letak keunggulan Linux (dengan adanya pembagian hak akses root, dan penggunaan command line, yang menyebabkan OS ini aman dari kemungkinan kerusakan oleh user maupun pihak luar).
Untuk melengkapi posting saya kali ini, saya sisipkan beberapa perintah-perintah dasar yang berguna bagi operasi Linux, antara lain :
  1. ls atau dir, untuk mengetahui isi dari suatu direktori (folder).
  2. df -h, untuk mngetahui tabel partisi disk, sisa ruang kosong, drive lain (misal USB Flash dan Cd/DVD rom) dan mengetahui letak mount (letak direktori sebuah drive lain dalam filesystem).
  3. cd, berpindah ke suatu direktori. Contoh : berpindah ke direktori Music dalam folder home anda misalnya, berikan perintah cd Music. Mengetikan perintah cd saja, otomatis akan membawa terminal anda ke home folder (yang merupakan lokasi kerja default terminal).
  4. su, login ke user root (administrator). Untuk distro ubuntu 6.06 ke atas, diganti dengan sistem sudo (tidak perlu proses login dengan su).
  5. cp, meng-copy file. Untuk meng-copy file ke filesystem, diperlukan hak akses root, untuk itu ditambahkan perintah sudo atau su didepannya. Contoh, untuk mengcopy sebuah file gambar ke lokasi penyimpanan wallpapers di filesistem : sudo cp file.jpg /usr/share/wallpapers/
  6. mv, memindahkan file. Untuk memindahkan ke filesistem, caranya persis seperti perintah cp.
  7. rm, menghapus file.
  8. mkdir, membuat sebuah direktori. Untuk membuat direktori di filesistem, tentu di tambah perintah sudo atau su.
  9. rmdir, menghapus direktori.
  10. halt, men-shutdown sistem. Jika diminta hak akses root, tambahkan perintah sudo atau su, tentu saja.
  11. reboot, men-restart sistem.
  12. mount, mengaktifkan sebuah drive agar terbaca oleh linux. Misal untuk mengaktifkan cdrom (yang sering tidak aktif secara otomatis, seperti memasukan VCD) : mount /media/cdrom0
  13. umount, untuk menonaktifkan sebuah drive. Contoh untuk menonaktifkan sebuah USBFD : umount /dev/sda1. Sebagai tambahan, terkadang karena sedang sibuk atau apa saya kurang tahu, proses umount tidak mau jalan, oleh karenanya, saya sering menambahkan hak user root (dengan menambah sudo atau su) dan berhasil dengan lancar.
  14. Untuk intalasi aplikasi, sejauh yang saya ketahui saat ini adalah :
  1. Untuk distro dengan paket rpm (fedora, suse, mandriva), perintahnya adalah : rpm -ivh namapaket.rpm
  2. Untuk distro dengan paket dpkg (debian,ubuntu,xandros,freespire), gunakan dpkg -i namapaket.deb
  3. Untuk distro dengan paket tgz (slackware,zenwalk,slax) gunakan installpkg namapaket.tgz
Trik-trik tambahan (berdasarkan pengalaman saya) :
Untuk mengetahui letak mounting suatu drive, pertama masukan cdrom berisi data-data biasa ( yang akan langsung aktif dan dikenali linux ). Kemudian cari letaknya di filesistem (baik melalui perintah df -h maupun anda cari secara manual di file browser atau konqueror).
Dalam proses instalasi suatu program, karena nama suatu file instaler yang rumit, daripada susah-susah, mendingan anda ketik ls (di dalam direktori tempat menyimpan file instale program), setelah kelihatan nama file-nya, anda copy paste saja. Contoh :

asal@home$ls
abcd-01_0202843974-hshsghsg_egfjhfejhfe_2432.deb (rumit untuk diketik bukan).
Anda copy barisan nama file instaler tersebut (sama seperti anda mengcopy teks dalam proses mengetik, dengan di block, kemudian click kanan dan pilih copy), kemudian pastelah di baris perintah baru (yang anda ketik) :
asal@home$ sudo dpkg -i abcd-01_0202843974-hshsghsg_egfjhfejhfe_2432.deb

Kenapa harus susah-susah? trik ini justru mempermudah, karena anda salah mengetik satu karakter saja, file tidak akan dikenali.
Jika anda tidak punya repository (karena tidak ada jaringan internet ataupun tidak punya repository lokal dalam bentuk cd/dvd) dan terpaksa mendownload sebuah file instaler secara manual, daripada susah-susah mencari masalah ketergantungan (dependency), mana yang sudah ada di sistem anda dan belum, anda download saja file instaler utamanya saja (contoh xmms_q123-akj.deb ). Kemudian anda instal, dan nanti apa-apa dependensi yang belum tersedia di sistem akan kelihatan di terminal. Nah, apa-apa yang muncul di terminal (yang berarti belum tersedia), anda catat dalam kertas, lalu kembalilah ke warnet, dan download secara terpisah (repotnya! :) ).
Jadi, Linux atau tidak merdeka !!, tak ada yang (benar-benar) susah kok ! Salam Linux!

1 comment:

Sumodirjo said...

Hayooohh nama gw ditulis, mana royaltinya :D kemarin aku dapet tutorial CLI bahasa indonesia