10 June 2007

Tentang Aplikasi Linux




Pada dasarnya, dari berbagai macam distro Linux yang ada di dunia ini, semuanya di bangun dari 3 distro dasar Linux, yaitu :





  1. Slackware



  2. RedHat



  3. Debian


Tidak seperti pada windows, jika akan menambah software menggunakan file setup installer berekstensi .exe yang berfungsi untuk semua versi windows, kalau pada Linux, tiap keluarga distro di atas mempunyai file installer (package manager) yang berbeda-beda, yaitu .tgz untuk keluarga Slackware; .rpm untuk keluarga redhat dan .deb untuk keluarga debian. Selain versi binary yang berbeda-beda di atas, terdapat source code yang bisa diaplikasikan untuk semua distro. Source code di sini bisa diartikan kumpulan file konfigurasi sebuah software yang harus dikompilasi secara manual dengan xshell agar dapat berfungsi. Source code itu sendiri berekstensi .tar.gz.



Sampai pada tahap inilah, banyak orang--terutama pemula--merasakan kerumitan Linux, bahkan bisa dikatakan sangat rumit. Yang lebih rumit, jika pada windows tiap aplikasi bisa berjalan(berdiri) sendiri, kalau pada Linux, sebuah aplikasi pasti bergantung pada aplikasi yang lain, dan atau pada berbagai macam Library.



Untuk itulah, banyak pengguna Linux, yang alih-alih mencari software tambahan di internet, lebih suka mencarinya dari bonus-bonus majalah Linux.



Mungkin inilah salah satu tantangan terbesar Linux, kerumitan arsitektur. Bagi kebanyakan pengguna komputer yang ogah bersusah payah, masalah ini akan menjadi pintu gerbang penghalang untuk mau berkenalan dengan Linux. Namun, seyogyanya, untuk meningkatkan harga diri kita sebagai bangsa yang di cap sebagai pembajak #2 di dunia, masalah ini tidak menyurutkan niat kita untuk bereksplorasi dengan Linux, yang jelas-jelas menunjukan profesionalitas dan legalitas dalam dunia IT.



Yang perlu diingat :



Untuk pengguna awam--seperti saya--tidak perlu khawatir dengan masalah ini, karena jika hanya untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari--seperti ngetik, musik, grafis dan film, kebutuhan aplikasi-aplikasi itu sudah built-in pada tiap distro yang beredar saat ini, dan kita tidak perlu repot-repot mengopreknya.



Jadi, pepatah bilang, berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, rawe-rawe rantas malang-malang putung, jangan putus asa hanya karena masalah ini. Ribuan forum diskusi akan siap menjawab semua pertanyaan tentang Linux-Trouble, tinggal googling saja.



Tambahan :





  1. Yang termasuk keluarga Slackware : zenwalk, slax, slackware itu sendiri, dan lainnya.


  2. Yang termasuk keluarga redhat : Mandriva Linux, openSuse Linux, Fedora Core, RedHat itu sendiri, Igos Nusantara, dan sebagainya.


  3. Yang termasuk keluarga debian : ubuntu bersaudara, xandros, simply mepis, knoppix, debian/GNU linux, dan ratusan distro lain.


2 comments:

North Sun said...

Mas Blog-nya kok nggak pernah di update??Bikin saya jadi kecewa pas masuk ke blog

Maulana said...

Ada distro lain lo yang tidak menginduk ke 3 main distro yang kamu sebutkan tadi (Slackware, RedHat, dan Debian). Istilahnya mereka independent distro, ada Gentoo, ArchLinux, rPath (pakai Conary Package Manager), LinuxConsole, Linux From Scratch, dan mungkin banyak lainnya...
Distro Linux terus bertambah karena masing-masing manusia punya selera tersendiri.